Pemuda Warga RT 02/03 Desak Aparat Desa Telaga Murni Dan Kepolisian Usut Tuntas Dugaan Pencabulan Di Bawah Anak

KabarinBekasi, CIKARANG BARAT– Sejunlah elemen masyarakat menyampaikan pernyataan sikapnya terhadap adanya dugaan tindakan kasus kekerasan seksual anak di bawah umur yang terjadi di Kampung Bojong Koneng, Desa Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat.

Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak yang mencuat di Kampung Bojong Koneng, Desa Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, terus menjadi perhatian masyarakat. Di tengah proses hukum yang berjalan, warga menyebut muncul dugaan adanya lebih dari satu korban dalam kasus tersebut.

Informasi yang berkembang di lingkungan setempat menyebut jumlah korban diduga mencapai empat anak. Namun, informasi tersebut masih berupa keterangan warga dan belum dapat dipastikan sebelum melalui proses penyelidikan serta penyidikan oleh aparat penegak hukum.

Munculnya dugaan korban lebih dari satu memicu keprihatinan sekaligus keresahan di tengah masyarakat. Warga berharap aparat penegak hukum tidak hanya berfokus pada laporan yang telah diterima, tetapi juga mendalami kemungkinan adanya korban lain.

Salah seorang tokoh pemuda setempat, Fahrulrozi, mengatakan masyarakat mendengar adanya dugaan korban tambahan dari lingkungan sekitar.

“Kami mendengar dan mengetahui dari lingkungan bahwa korban diduga lebih dari satu. Bahkan ada yang menyebut sampai empat anak. Karena itu kami meminta aparat mengusut tuntas dan membuka kemungkinan adanya korban-korban lain,” ujarnya.

Menurut warga, apabila dugaan tersebut terbukti benar, maka kasus ini harus ditangani secara maksimal karena menyangkut perlindungan anak dan rasa aman masyarakat. Dalam pernyataan sikap yang disampaikan berbagai elemen masyarakat pada Rabu (3/6/2026) malam, warga juga mengecam segala bentuk kekerasan seksual terhadap anak serta mendesak aparat bertindak cepat, profesional, dan transparan.

Selain meminta pengusutan menyeluruh, masyarakat juga mendorong adanya perlindungan bagi korban yang telah melapor maupun korban lain yang mungkin belum berani menyampaikan pengaduan. Warga menilai faktor trauma, rasa takut, maupun tekanan sosial kerap menjadi alasan korban atau keluarga memilih diam.

“Jangan sampai ada korban yang memilih diam karena takut. Jika memang ada korban lain, negara harus hadir memberikan perlindungan dan pendampingan,” kata Fahrulrozi.(kb)