Sempat Tertunda, Jembatan CBL Kini Dikebut: Akses Warga Tiga Kecamatan Jadi Taruhan

Kabarinbekasi.com, Cikarang Utara — Mobilitas warga di kawasan Cikarang Barat, Cibitung, dan Cikarang Utara bergantung pada konektivitas jalan yang memadai. Salah satu akses penghubung di kawasan tersebut, Jembatan Hulu Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL), kini direhabilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk meningkatkan keamanan dan kelancaran perjalanan masyarakat.

Melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDA-BMBK), pemerintah daerah menargetkan perbaikan jembatan yang menghubungkan Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, dengan Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung, itu rampung lebih cepat dari masa kontrak 90 hari kalender.

Ketua Tim Pembangunan Jembatan Dinas SDA-BMBK Kabupaten Bekasi, H. Amin, mengatakan pekerjaan rehabilitasi menggunakan anggaran APBD Kabupaten Bekasi 2026 sebesar Rp484,301 juta. Pelaksanaannya berlangsung sejak 20 Agustus hingga 17 November 2026.

“Targetnya pekerjaan bisa selesai lebih cepat dari kontrak. Kami sudah berkoordinasi dengan pelaksana agar pekerjaan ini dapat segera diselesaikan karena jembatan ini sangat vital bagi masyarakat,” kata Amin pada 15 September 2026.

Perbaikan tak sekadar mempercantik jembatan

Jembatan yang berada di Kampung Cikarang Jati tersebut memiliki panjang sekitar 21 meter dan lebar 7 meter. Selain menjadi penghubung antardesa, jalur ini mendukung aktivitas warga dari tiga kecamatan, termasuk masyarakat di kawasan permukiman Gramapuri dan Puri Lestari.

Karena itu, rehabilitasi tidak hanya menyasar tampilan fisik jembatan. Pekerjaan mencakup perbaikan lantai jembatan, pembongkaran dan pemasangan kembali besi pembatas atau railing di kedua sisi, serta rekonstruksi jalan pendekat pada sisi masuk dan keluar jembatan.

Amin menjelaskan, pengecoran jalan pendekat telah dilakukan, sedangkan pemasangan railing masih berlangsung saat keterangan disampaikan. Tahapan berikutnya meliputi pengaspalan, pembuatan lonengan, dan pengecatan.

Untuk mempercepat penyelesaian, Dinas SDA-BMBK juga berkoordinasi dengan pelaksana agar menggunakan material beton fast track yang memiliki waktu pengerasan lebih singkat dibandingkan beton konvensional.

Menurut Amin, beton standar umumnya membutuhkan waktu sekitar 28 hari untuk mencapai kondisi penggunaan optimal, sedangkan beton fast track dapat digunakan dalam waktu sekitar tiga hingga tujuh hari, bergantung pada spesifikasi dan kondisi pengerjaannya.

Penggunaan material tersebut diharapkan dapat memangkas waktu pekerjaan sehingga akses penghubung antardesa itu bisa kembali dimanfaatkan masyarakat lebih cepat.

Mengapa perbaikannya baru dilakukan tahun ini?

Rehabilitasi Jembatan CBL sebenarnya telah direncanakan pada tahun sebelumnya. Namun, pelaksanaannya ditunda karena pembangunan bendung di kawasan tersebut masih berlangsung.

Menurut Amin, pengerjaan bendung dan rehabilitasi jembatan secara bersamaan berisiko menimbulkan kemacetan yang lebih parah. Pemerintah kemudian menjadwalkan rehabilitasi jembatan pada 2026 agar kedua pekerjaan tidak mengganggu mobilitas warga secara bersamaan.

Jembatan tersebut berada tepat di depan Bendung BSH-0 Cibitung. Posisi dan fungsinya membuat akses ini penting bagi pergerakan masyarakat di kawasan sekitarnya.

Bagi warga, perbaikan jembatan diharapkan bukan hanya membuat perjalanan lebih lancar, tetapi juga meningkatkan rasa aman ketika melintas.

Desi Angrum (30), warga Perumahan Puri Lestari, Desa Sukajaya, menyambut baik rehabilitasi tersebut. Ia berharap perbaikan jembatan dapat mendukung mobilitas warga dan memperkuat konektivitas antardesa maupun antarkecamatan.

“Alhamdulillah Jembatan CBL akhirnya bisa diperbaiki tahun ini. Perbaikan jembatan ini sangat membantu masyarakat. Selain membuat mobilitas lebih lancar, juga mendukung konektivitas warga antardesa bahkan antarkecamatan,” ujarnya.

Dengan anggaran ratusan juta rupiah dan target penyelesaian lebih cepat, pekerjaan rehabilitasi Jembatan CBL kini menjadi bagian penting dari upaya menjaga aksesibilitas masyarakat Kabupaten Bekasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan pekerjaan selesai sesuai target, memenuhi standar keselamatan, dan memberikan manfaat nyata bagi warga yang setiap hari mengandalkan jalur tersebut. (red)