Banjir Kembali Rendam Kab Bekasi, BPBD Kab Bekasi; 5 Kecamatan Terdampak

KabarinBekasi, CIKARANG UTARA – HUJAN deras yang turun sepanjang hari telah membuat ke khawatiran mssyarakat akan banjir yang melanda tempat tinggalnya. Banjir di wilayah Kabupaten Bekasi kini tak lagi memandang status sosial. Bahkan kediaman pribadi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, di Perumahan Bumi Citra Lestari (BCL), Cikarang Utara, tak luput dari rendaman genangan air usai hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Minggu (18/1/2026).

Peristiwa ini menjadi potret nyata sebuah kegagalan tata ruang  wilayah penyangga ibu kota di Kabupaten Bekasi. Banjir yang menimpa orang nomor satu di Bekasi tersebut bukan sekadar faktor alam, melainkan dampak dari pembangunan kawasan hunian yang tidak dibarengi dengan penyediaan lahan serapan dan infrastruktur drainase yang mumpuni.

Warga menyebut, banjir bukan kali pertama terjadi. Setiap hujan dengan intensitas tinggi turun dalam durasi cukup lama, genangan air hampir selalu muncul. Kondisi drainase yang sempit, dangkal, serta dipenuhi sedimentasi membuat aliran air tersendat.

“Sudah sering kejadian. Kalau hujan deras, air pasti naik. Drainasenya memang bermasalah,” ujar seorang warga setempat yang enggan di sebutkan namanya

Banjir yang menimpa kediaman kepala daerah ini menjadi ironi tersendiri, mengingat persoalan drainase dan genangan air masih menjadi keluhan klasik warga di sejumlah kawasan permukiman Kabupaten Bekasi.

Pasca air surut, warga tampak membersihkan lumpur dan sisa sampah yang terbawa genangan. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, banjir tersebut mengganggu aktivitas warga dan menimbulkan kerugian material.

Warga berharap kejadian ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh serta pembenahan sistem drainase, khususnya di kawasan permukiman padat penduduk, agar persoalan banjir tidak terus berulang setiap musim hujan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi Dodi Supriadi mengatakan, banjir merendam permukiman warga akhibat intensitas hujan yang cukup tinggi dengan ketinggian air yang bervariasi di setiap lokasi.

Ketinggian air di beberapa titik mencapai puluhan sentimeter. Genangan terjadi lantaran sistem drainase dan aliran sungai tidak mampu menampung debit air yang terus meningkat. “Data sementara lima kecamatan yang terendam banjir,” kata Dodi.

Adapun lima kecamatan yang dilaporkan terdampak banjir meliputi Cikarang Utara, Cibitung, Tambun Selatan, Tambun Utara, dan Babelan. Di beberapa lokasi, air dilaporkan masuk ke dalam rumah warga, merendam perabotan, serta mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Genangan terjadi di sejumlah wilayah dengan ketinggian air berkisar antara 30 sentimeter hingga sekitar 80 sentimeter, terutama di kawasan dataran rendah,” ungkapnya.

Banjir juga berdampak pada akses jalan lingkungan. Sejumlah ruas tergenang air sehingga menyulitkan mobilitas warga, khususnya pengguna sepeda motor. Meski demikian, BPBD memastikan hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

“Petugas masih berada di lapangan untuk melakukan pemantauan, pendataan, serta asesmen kebutuhan warga terdampak. Penanganan akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan,” kata Dodi. (kb)