KabarinBekasi, SERANG BARU-Akhibat tingginya intensitas curah hujan yang menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga rusak parah.
<span;>Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi bergerak cepat menangani peristiwa pergerakan tanah yang terjadi di Perumahan Villa Lestari 1, Desa Jayasampurna, dan Perumahan Mega Regency, Desa Sukaragam, Kecamatan Serang Baru.
Amblasnya tanggul pembatas antara perumahan dan Kali Cikarang, disebabkan tingginya curah hujan sehingga tidak mampu menahan peningkatan debit air saat hujan deras, dan dengan Kondisi tersebut semakin memperparah dan menimbulkan kekhawatiran warga.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi mengatakan, pihaknya telah menurunkan tim ke lokasi kejadian, untuk melakukan pendataan sekaligus berkoordinasi dengan unsur terkait, mulai dari RT, pemerintah desa, hingga pihak pengembang.
“Longsor ini merupakan dampak bencana hidrometeorologi akibat tingginya intensitas hujan, pergerakan tanah tidak ada korban jiwa,l namun sebanyak 12 rumah dengan sembilan kepala keluarga berada dalam kondisi terancam,” ujarnya Kamis, (29/01/2026).
Ia menjelaskan, longsor tidak hanya terjadi di Perumahan Villa Lestari 1 RT 033 RW 017 saja, melainkan juga di Perumahan Mega Regency RT 34 RW 09, pergerakan tanah di lokasi tersebut mencapai sekitar lima meter dengan panjang area terdampak kurang lebih 35 meter.
Mantan Sekcam Cibitung ini menyebut, bahwa BPBD Kabupaten Bekasi telah merekomendasikan penanganan teknis untuk mencegah kerusakan lebih luas kedepannya melalui penguatan struktur tanah sebagai solusi agar tidak sampai merembet kerumah lainnya, jarak perumahan dengan aliran sungai cukup dekat untuk itu diperlukan tanggul penahan tanah yang kokoh.
“Rekomendasi utama kami pembangunan turap penguatan tanah yang permanen, untuk kebutuhan mendesak saat ini diperlukan bronjong, bambu, dan terpal guna menahan pergerakan tanah untuk sementara ini,” jelasnya.
Senada disampaikan, Ketua RW 17 Perumahan Villa Lestari 1, Suyatno dimana sebelumnya warga telah mengusulkan pembangunan tanggul yang memadai untuk mengantisipasi banjir dan longsor, namun pelaksanaan di lapangan dinilai belum sesuai harapan dan keinginan warga setempat.
“Kami sudah menyampaikan ke pihak pengembang dan responnya cepat, tetapi pengerjaannya kurang maksimal, tanah hasil pengerukan sungai hanya ditumpuk tanpa penguatan konstruksi permanen. Akibatnya, longsor terjadi bertahap, dari retakan kecil hingga pergeseran tanah seperti sekarang,” ungkapnya.(kb)


