KabarinBekasi, TAMBUN SELATAN-Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan menggelar Rapat Minggon Tingkat Kelurahan dengan mengangkat tema”Sinergisitas Kinerja Kelurahan Tingkat Kabupaten Bekasi 2026″. Kegiatan rapat minggon di gelar di Aula Kelurahan Jatimulya, Senen (22/09).
Lurah Jatimulya Acep Abdi Eka Pradana menyampaikan bahwa rapat minggon ini merupakan bentuk jembatan komunikasi untuk menyerap aspirasi dari seluruh pengurus yang terdiri dari 19 RW yang ada di wilayah kelurahan jatimulya dalam mengentaskan pembangunan yang masih di bawah 50 persen target insfratruktur.
“Tadi bisa dilihat begitu kompak pengurus dari 19 RW se kelurahan Jatimulya yang mewakili masing masing masyarakatnya begitu antusias mengikuti Minggon ini. Beragam aspirasi disampaikan para RW terkait kebutuhan pembangunan wilayahnya yang belum terbangun dari Pemerintah Daerah Kab Bekasi.”ungkapnya kepada KabarinBekasi.com usai rapat minggon, Senin (22/09).
Dijelaskan Dia, sebelum dilakukannya Rapat Minggon Kelurahan Jatimulya. Dirinya melakukan mapping (pemetaan) terlebih dahulu di masing masing RW yang ada di wilayah Jatimulya, Wilayah dengan luas mencapai 5 hektar yang berbatasan langsung dengan Kota Bekasi, berjumlah penduduk 110 ribu jiwa, 19 RW dan 165 RT.
Jatimulya ini merupakan daerah penyanggah yang berbatasan langsung dengan Kota Bekasi. Jatimulya mendapat icon wikayah ‘Banjir’ lantaran luput perhatian dari Pemerintah Kab Bekasi sebelumnya di periode 2020 ke bawah.”Beragam masalah serta luas wilayah yang makin padat jumlah penduduknya sangat mempengaruhi sekali. Namun, ketika dirinya di percaya menjadi Lurah Jatimulya melihat ada beberapa permasalahan diantaranya adalah Insfratruktur yang di nilai masih jauh dari pada pemberdayaan masyarakat,”imbuhnya
Isfratruktur apapun di jatimulya ini, kata Acep, semisal dapat 50 persen bantuan yang digelontorkan dinilai belom mumpuni untuk 165 RT yang tersebar di 19 RW terutama hal hal yang secara iconic Jatimulya yakni “banjir” di periode 5 tahunan pada tahun 2020 kebawah.”sambung dia.
Pria yang pernah jadi Ajudan di era Bupati Neneng Hasanah Yasin ini menuturkan hari ini masyarakat di kelurahan jatimulya mulai berfikir apa yang menjadi penyebab Jatimulya ini kerap banjir.
“Penyebab banjir itu akhibat adanya hambatan-hambatan saluran utama di saluran reguler di internal masyarakat. Yang mana wilayah jatimulya ini saling berkaitan, bersinggungan. Nah tadi bisa dilihat sebanyak 19 RW hadir semua di minggon ini berarti sangat antusiasme adanya percepatan pembangunan karena mottonya itu adalah pengen Jatimulya Maju dari segala pembangunan.”papar dia
Dari hasil pemappingan (peta) tadi maka dibuatlah RW itu menjadi sektor. Kerena jatimulya berstatus Kelurahan sedang kalo di desa ada dusun. “Kenapa sih harus Sektor, karena sektor RW ini tidak pernah saling bersilaturahmi, tidak saling ngobrol bagaimana kita bisa tahu akar permasalahan yang terjadi di masing wilayahnya.”ujarnya.
Sektor ini mana saja, yang pertama Sektor 1 berdiri di seberang jalan kalimalang diantaranya RW 01, RW 02, RW 03, RW 04, RW 05 Dan RW 14. Kemudian Sektor 2 diantaranya RW 06, RW 07, RW 08, RW 11, RW 13 dan RW 15. Lalu Sektor 3 diantaranya RW.09, RW 10, RW 16, RW 17, RW 18 dan RW 19. Kondisi sektor ini mengikuti kebutuhan pertikungan wilayah, inilah Jatimulya,” beber dia.
Acep berharap dari semua percepatan pembangunan wilayah melalui Musrenbang Kelurahan. Dan anggaplah Jatimulya memiliki Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM) Kelurahan agar setiap pembangunan yang dilakukan Pemerintah Daerah lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan. Bukan hanya sekedar program semata.
“Kadang kadang kita menerima program hari ini dari Pemerintah Kab Bekasi tidak asal jadi. Asal jalingnya kebangun, asal drainase kebangun, terus jalan kebangun tapi malah tidak sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan jadi kita ingin semua lebih tepat sasaran dalam pembangunan yang dilaksanakan tadi,” pungkas dia.(kb)


